30 Aug 2026 Humas News Read 8 times

Ketika Heritage Kembali Hidup, Arsitektur Unkhair Hadirkan Pakar dari Taiwan dan Malaysia

Ketika Heritage Kembali Hidup, Arsitektur Unkhair Hadirkan Pakar dari Taiwan dan Malaysia

Ternate, 29 Agustus 2026 — Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Khairun kembali memperkuat atmosfer akademik internasional melalui kegiatan kuliah tamu bertema “When Heritage Comes Alive: Reconstruction, Heritage Cities, and Sustainable Tourism.” Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 29 Agustus 2026 ini menghadirkan dua keynote speaker dari Taiwan dan Malaysia dengan perspektif yang saling melengkapi mengenai pelestarian heritage, rekonstruksi, kota bersejarah, dan pariwisata berkelanjutan.

Kuliah tamu dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Teknik Universitas Khairun, Ir. Ar. Endah Harisun, S.T., M.T., IPU, IAI., ASEAN Eng. Kegiatan turut dihadiri oleh Wakil Dekan I dan Wakil Dekan III Fakultas Teknik, Koordinator Program Studi Arsitektur, seluruh dosen Program Studi Arsitektur, serta diikuti oleh seluruh mahasiswa Arsitektur Universitas Khairun.

Kehadiran dua narasumber internasional memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat isu heritage dari dua sudut pandang yang berbeda, namun saling berhubungan: bagaimana warisan arsitektur yang hilang dapat dihadirkan kembali melalui rekonstruksi, serta bagaimana kota-kota heritage dapat terus hidup dan berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

Menghidupkan Kembali Warisan Arsitektur yang Hilang

Keynote speaker pertama, Prof. Ping-Hsiang Hsu, Ph.D., dari Institute of Building and Planning, Taiwan University, membawakan materi berjudul: “Reconstruction of Lost Built Heritage as a Way of Tourism Development in Historical Cities: Case Study of Dutch Trading Post in Hirado, Dejima and Tainan.”

Dalam sesi ini, mahasiswa diajak memahami bahwa hilangnya sebuah bangunan bersejarah tidak selalu berarti hilangnya seluruh nilai yang dikandungnya. Rekonstruksi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menghadirkan kembali memori, identitas, dan narasi sejarah sebuah tempat, sekaligus membuka peluang pengembangan kawasan sebagai destinasi pariwisata.

Melalui studi kasus Dutch Trading Post di Hirado, Dejima, dan Tainan, pembahasan memperlihatkan hubungan antara rekonstruksi warisan binaan, sejarah kota, identitas kawasan, dan pengembangan pariwisata.

Belajar dari Melaka dan George Town

Perspektif berbeda disampaikan oleh keynote speaker kedua, Rosli Nor, Heritage Commissioner, ICOMOS Malaysia, melalui materi: “POOR CITY, RICH CITY: Lesson Learned from the World Heritage Sites of Melaka & George Town, Penang.”

Materi tersebut membawa peserta melihat pengalaman Melaka dan George Town, Penang, sebagai kota yang memiliki kekayaan warisan sejarah dan budaya serta berkembang dalam konteks pariwisata.

Pembahasan tidak berhenti pada nilai fisik bangunan bersejarah, tetapi juga menyentuh hubungan antara pelestarian, kehidupan masyarakat, aktivitas ekonomi, identitas kota, dan tekanan perkembangan pariwisata.

Melalui pengalaman kota-kota heritage tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman bahwa keberhasilan pelestarian tidak cukup hanya dengan mempertahankan fasad atau bangunan lama. Heritage perlu tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat agar memiliki makna dan keberlanjutan.

Ketika Heritage Kembali Hidup

Tema “When Heritage Comes Alive” menjadi benang merah dari kedua materi. Heritage dipahami bukan sekadar sebagai peninggalan masa lalu yang dipertahankan secara fisik, tetapi sebagai warisan yang dapat terus berinteraksi dengan kehidupan masyarakat, pendidikan, ekonomi, dan perkembangan kota.

Rekonstruksi, konservasi, pengelolaan kawasan heritage, dan pariwisata berkelanjutan menjadi bagian dari satu pertanyaan besar: bagaimana menjaga nilai masa lalu agar tetap mempunyai tempat dan makna dalam kehidupan masa kini dan masa depan.

Membuka Wawasan Mahasiswa ke Perspektif Global

Kehadiran akademisi dari Taiwan dan praktisi heritage dari Malaysia sekaligus memberikan pengalaman akademik internasional kepada mahasiswa Arsitektur Unkhair. Mahasiswa dapat memperoleh gambaran bagaimana persoalan heritage dan pengembangan kota ditangani dalam konteks negara dan kawasan yang berbeda.

Interaksi tersebut diharapkan memperluas wawasan mahasiswa, khususnya mengenai hubungan antara arsitektur, sejarah, konservasi, identitas kota, dan pariwisata berkelanjutan.

Melalui kegiatan seperti ini, Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Khairun terus berupaya menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di dalam studio dan ruang kuliah, tetapi juga mempertemukan mahasiswa secara langsung dengan pemikiran, pengalaman, dan praktik arsitektur dari berbagai belahan dunia.

Dari Ternate, mahasiswa diajak melihat dunia. Dari warisan masa lalu, mereka belajar merancang bagaimana sejarah tetap hidup untuk masa depan.